“Anda tahu kenapa saya bersedia menemui Anda di sini?”
(Ia menjeda kalimatnya, membiarkan asap memenuhi langit-langit mobil).
“Karena Anda naif. Dan kenaifan itu, bagi orang seperti saya, kadang menghibur.”
“Anda berpikir musuh terbesar kami—adalah penguasa status quo ini—adalah mereka yang membawa pentungan di jalanan? Atau mahasiswa yang membakar ban di depan istana? Anda sangat keliru besar. Semua itu hanyalah gangguan fisik. Sangat mudah diukur. Kirim satu kompi Brimob, selesai. Atau panggil korlapnya, ajak ngopi, beri sedikit ‘logistik’, sudah bubar.”
(Ia menoleh perlahan ke arah Anda. Tatapannya datar, seperti air danau yang menyembunyikan buaya).
“Musuh yang paling kami takuti adalah orang-orang seperti yang Anda kagumi itu. Mereka yang tidak punya senjata, tapi punya kredibilitas. Mereka yang memiliki kapital simbolik. Ketika mereka bicara, publik percaya. Ketika mereka menunjuk ada korupsi, rakyat mengangguk. Integritas mereka adalah musuh utama kami, sebuah senjata nuklir bagi kami.
Satu orang jujur dengan tangan dan mikrofonnya itu… lebih berbahaya bagi kekuasaan daripada sepuluh batalyon tentara.”
(Ia mengetuk abu rokoknya ke asbak dengan gerakan elegan).
“Maka, kami tidak bisa menggunakan cara lama. Penculikan? Kekerasan fisik? Itu cara yang amat barbar. Metode Orde Baru itu sangat berisik dan meninggalkan jejak darah. Sekarang zaman demokrasi, Bung. Kami main rapi. Kami main cantik. Operasi kami sekarang bernama Pembunuhan Karakter.
Tujuannya bukan mematikan orangnya, tapi mematikan suaranya. Kami melakukan apa yang disebut inversi narasi. Ketika tokoh itu berteriak lantang soal korupsi triliunan rupiah… kami tidak akan membantah datanya. Jelas itu bunuh diri. Datanya terlalu kuat. Maka, kami geser fokusnya. Kami serang si pembawa pesannya.”
(Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata).
“Tim saya akan bergerak. Kami selami masa lalunya. Kami bongkar tong sampah pribadinya. Percayalah pada saya, tidak ada manusia yang suci, tidak ada satupun manusia yang suci. Mungkin dia pernah telat bayar pajak kendaraan lima tahun lalu. Mungkin ada masalah administrasi di yayasannya. Mungkin ada chat genit masa lalu, atau hutang piutang dengan mantan rekan bisnis. Hal-hal sepele. Hal-hal manusiawi yang saya yakin Anda pun pernah melakukannya.
Bedanya, kesalahan Anda tidak ada yang peduli. Kesalahan dia? Kami jadikan sebuah gorengan di dalam panggung teater.”
“Kami ‘goreng’ isunya. Kami kerahkan buzzer untuk berteriak soal moralitas. Kami suruh media-media afiliasi untuk membuat judul besar: ‘Tokoh Anti-Korupsi Ternyata Pengemplang Pajak’ atau halphal serupa. Lalu, ketika instrumen hukum masuk. Surat panggilan dilayangkan. Kasus yang seharusnya perdata atau administrasi, kami akan bingkai seolah-olah kriminal besar.
Apa hasilnya? Publik pun menjadi muak. Publik yang tadinya marah pada korupsi pejabat, tiba-tiba berbalik arah: ‘Ah, ternyata dia sama saja munafiknya.’ Terciptalah ambiguitas. Pesan kritiknya sudah jelas lenyap, tenggelam oleh gosip murahan. Dia sibuk klarifikasi, energinya habis, dan pelan-pelan… dia ditinggalkan pengikutnya.”
(Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya ke arah AC).
“Ini bukan sekadar menang atau kalah satu kasus. Ini soal bagaimana menciptakan teror psikologis. Sebuah Chilling effect. Kami mengirim pesan kepada seluruh intelektual, mahasiswa, dan orang-orang idealis di luar sana: ‘Silakan bicara jujur. Tapi ingat, kami akan telanjangi hidup Anda. Kami akan cari celah terkecil Anda, dan kami akan hancurkan nama baik Anda di depan keluarga Anda sendiri.’
Kejam? Mungkin. Tapi ini jelas lebih efektif. Lihat saja sekarang. Berapa banyak yang berani bersuara lantang? Sedikit. Sisanya memilih cari aman. Memilih diam daripada aibnya dibuka.”
(Ia mematikan rokoknya. Menatap Anda lekat-lekat).
“Jadi, saran saya untuk Anda… belajarlah menjadi dewasa. Lawan kami bukan dengan membela sosok manusianya. Manusia pasti punya cacat. Lawan kami dengan memisahkan pesan dari pembawa pesan. Jika ada seorang pemabuk berteriak ‘Ada Kebakaran!’, apakah Anda akan diam saja hanya karena dia pemabuk? Apinya tetap nyata, Bung.
Jangan mau disuapi skandal. Fokus pada substansi. Kalau Anda masih terjebak membicarakan gosip personal tokoh itu, berarti selamat… Anda sudah masuk dalam skenario yang saya tulis.”
(Ia melirik jam tangannya. Arloji mahal yang berkilau di kegelapan).
“Waktu habis. Silakan turun. Dan tolong, jangan ingat wajah saya. Anggap saja ini nasihat tentang bagaimana dunia bekerja yang sebenarnya.”
Lampu belakang Innova hitam itu perlahan lenyap ditelan kabut dan deru hujan yang makin gila. Menyisakan asap knalpot tipis yang baunya segera kalah oleh aroma got basah dan bensin eceran.
Kaki ini rasanya lemas sekali. Seperti tulang-tulangnya baru saja dilolosi satu per satu. Bukan karena dinginnya angin di bawah jalan layang, tapi karena dinginnya kebenaran yang baru saja disuntikkan paksa ke dalam kepala.
Ada getaran halus di tangan yang sulit dihentikan. Teringat rokok putih yang tadi menyala tenang di tangan pria itu, sementara tangan ini gemetar hanya karena mendengarnya.
Ponsel di saku celana tiba-tiba terasa berat dan panas. Benda pipih yang biasanya jadi teman setia itu, kini rasanya seperti menyimpan mata-mata. Rasanya seperti menggenggam bom waktu. Apakah ada yang sedang mendengarkan sekarang? Apakah GPS-nya sedang mengirim koordinat ke layar komputer di suatu ruangan ber-AC yang dingin? Keinginan untuk melemparnya ke selokan yang airnya hitam pekat itu sempat muncul, tapi logika menahannya.
Paranoia mulai merayap naik dari tengkuk.
Setiap motor yang melambat di pinggir jalan dicurigai. Apakah itu tukang ojek biasa yang lagi ngiyup? Atau ‘kaki-tangan’ yang sedang memastikan pesan tadi tersampaikan? Sorot lampu kendaraan yang lewat bukan lagi sekadar cahaya, tapi seperti lampu interogasi yang menyilaukan.
“Kami bongkar tong sampah pribadinya.”
Kalimat itu berdenging terus. Mengerikan. Memuakkan. Menjijikan. Menjengkelkan. Mendadak, memori masa lalu berputar cepat seperti kaset rusak. Kesalahan-kesalahan kecil, keteledoran, lelucon kasar di grup percakapan tongkrongan sepuluh tahun lalu, foto-foto memalukan saat muda… semuanya tiba-tiba tidak lagi terlihat sebagai kenangan usang. Semuanya berubah wujud menjadi amunisi-amunisi. Menjadi peluru yang siap ditembakkan kapan saja.
Ternyata kita ini telanjang. Kita pikir kita punya privasi, punya ruang aman. Omong kosong. Bagi mereka yang memegang kendali di balik kaca gelap itu, kita cuma sekumpulan data kotor yang menunggu gilirannya untuk digoreng dan dimatangkan.
Dunia mendadak terlihat seperti panggung sandiwara raksasa yang grotesque. Melihat headline berita di layar videotron di seberang jalan, rasanya ingin muntah. Berita skandal, gosip selebritis, keributan netizen… itu bukan lagi sekadar informasi. Tapi semua itu adalah noise. Debu yang sengaja ditebar ke mata publik agar tidak bisa melihat bajingan yang sebenarnya sedang tertawa di belakang panggung.
Napaspun rasanya terasa sangat berat, sesak, pengap, sumpek dan sempit oleh udara yang dipenuhi tipu daya.
Melangkah pulang menembus genangan air keruh ini rasanya jadi tugas yang paling berat sedunia. Ada ketakutan yang bangkit… ketakutan akan ketidakberdayaan. Ternyata, menjadi benar saja tidak cukup. Menjadi jujur saja tidak menyelamatkan.
Satu-satunya yang tersisa di saku jaket yang basah kuyup ini hanyalah kewarasan yang mulai retak. Dan sebuah pertanyaan yang menghantui setiap langkah kaki di trotoar yang becek:
Siapa lagi yang bisa dipercaya kalau cermin pun bisa mereka retakkan?
/// CONNECTION TERMINATED ///