[BEGIN TRANSMISSION]

“Ditaruh dulu to, HP-ne. Tehnya keburu dingin nanti.”

(Di teras rumah yang lantainya masih tegel dingin, Bapak menuangkan teh hangat dari teko blirik ke dalam cangkir. Uapnya mengepul tipis. Anaknya, Hendra sedang duduk di lincak bambu bersebelahan, tapi matanya tidak lepas dari layar ponsel. Jempolnya menggulir layar dengan gelisah, dahinya berkerut).

(Bapak menggeser cangkir itu ke dekat tangan Hendra. Suaranya tenang, kontras dengan panasnya udara siang bolong).

“Sebentar, Pak. Ini ada email masuk dari klien. Padahal udah bilang cuti, tapi masih nyaut aja.”

(Terik matahari Jawa Timur siang ini rasanya seperti memanggang ubun-ubun. Angin tidak bergerak sama sekali. Daun jati di pekarangan rumah tua itu diam mematung. Hanya suara kerek timba sumur tetangga yang terdengar sesekali).

“Ya itu…” (Bapak terkekeh pelan, lalu menyesap tehnya sendiri. Srup). “Ragamu sudah sampai sini, Le, sudah di Nganjuk. Tapi nyawamu, nalarmu, masih ketinggalan di Jakarta sana. Masih kejebak macet di Sudirman sana.”

(Hendra menghela napas panjang, akhirnya meletakkan ponsel itu di meja dengan posisi terbalik. Punggungmu bersandar lemas di sandaran bambu yang berderit).

“Susah, Pak. Kepala rasanya penuh terus. Niatnya pulang mau istirahat, mau tidur nyenyak, tapi kok malah gelisah. Panas pula udaranya.”

“Istirahat…” (Bapak mengulang kata itu seolah sedang menimang rasa teh di lidahnya). “Satu kata itu sederhana, tapi wong sak dunia ngejarnya ngos-ngosan, sampai lupa caranya napas.”

(Bapak memandang jalanan desa yang sepi. Debu beterbangan dengan perlahan).

“Kamu tahu, Bapak sering ngamatin pasien di ICU. Dari yang pejabat sampai petani. Kebutuhan biologisnya sama, butuh jeda. Sel-sel tubuhmu itu butuh mandek sebentar buat dandan-dandan yang rusak. Kalau nggak tidur, ya ambruk. Hukum alam itu, ora iso ditawar.”

“Tapi, Bapak perhatikan kamu dari kemarin… tidurmu cukup, makanmu banyak, tapi matamu itu lho… kelihatan koyo matane orang capek. Mata orang yang pikiranne perang terus sama dirinya sendiri toh.”

“Maksude opo, Pak?”

“Lha ya itu. Istirahat sing bener itu bukan cuma merem, Le. Istirahat sejati itu kondisi jiwa. Keadaan di mana pikiran-mu itu berhenti berteriak, berhenti cemas, berhenti merasa ‘harus jadi sesuatu’. Pembebasan dari keriuhan di kepalamu itu.”

(Bapak menunjuk jalanan depan rumah dengan dagunya).

“Coba lihat itu. Tetangga kita, Lik Man yang barusan lewat ngarit. Kamu, orang kota, lari ke sini nyari apa? Nyari sepi, kan? Nyari suara jangkrik, nyari angin sawah. Kamu nganggep desa ini ‘obat’. Kamu mikir ketenangan itu cuma ada di sini, di tempat yang lambat ini.”

“Tapi coba tanya Lik Man. Atau tanya anak-anak muda di kampung sini. Bagi mereka, sepi ini mboseni. Mematikan. Mereka malah mimpi pengen ke kota. Bagi mereka, kota itu harapan. Kota itu lampu terang, gampang dapat duit e, dan segala gemerlap yang mereka liat di TV. Mereka pengen ngrasain bisingnya dan ramainya mal.”

(Bapak tersenyum geli).

“Lucu, to? Orang kota rindu lumpur sawah, orang desa rindu aspal panas. Siapa yang bener? Siapa yang salah?”

(Hendra mulai terdiam, mulai merenung. Angin panas berhembus pelan, membawa bau tanah kering).

“Nggak ada yang salah. Itu manusiawi. Kita ini makhluk yang aneh, Le. Kita selalu merindukan kebalikan dari apa yang kita punya. Kita nganggep ‘surga’ itu adalah kebalikan dari ‘neraka’ yang lagi kita jalanin sekarang. Kamu sumpek di Jakarta, makanya desa jadi surgamu. Lik Man sumpek di sawah, makanya Jakarta jadi impiannya.”

“Jadi, istirahat itu nggak bisa dipatok satu istilah. Bagi Lik Man, istirahat itu mungkin bisa duduk di warung kopi pinggir jalan, ngeliatin mobil lewat. Bagi kamu, istirahat itu ya diem di sini, minum teh anget, nggak denger suara klakson.”

“Masalahnya…” (Bapak menatap ponselmu yang tergeletak bisu). “Kamu di sini, tapi alat itu bawa ‘neraka’-mu ke saku celanamu. Gimana jiwamu mau lerem (tenang)?”

“Semua tergantung cara pandang, Pak, ya?”

“Iyo. Memahami itu langkah pertama biar kita nggak gampang nge-judge orang. Bapak pernah liat anak sekolah di RS, capek jaga malam, duduk di kantin makan nasi goreng pedes. Detik itu, dunianya menyempit. Teori kedokteran ilang, guru galak ilang. Yang ada cuma rasa pedes di lidah. Buat dia, itu istirahat paling damai. Bukan cuma tidur, tapi sego goreng. Itu lho, Le, ketenangan batiniah itu spektrumnya luas. Cuma sayangnya… jaman sekarang iki, hakmu buat ngerasain itu kayaknya udah dirampas pelan-pelan.”

(Bapak menuangkan lagi teh ke cangkirmu yang sudah separuh kosong).

“Minum dulu. Mumpung masih anget. Nanti Bapak ceritain kenapa Bapak bilang istirahatmu itu sebenernya udah ‘dijajah’.”

(Hendra mengangkat cangkir tehnya, meniup permukaan air yang masih mengepulkan uap panas. Dia menyesap sedikit, merasakan sepat dan manis gula batu yang lumer di lidah. Keringat sebesar biji jagung mulai menetes di pelipisnya, tapi dia membiarkannya saja. Kata-kata Bapak barusan soal ‘dijajah’ mengusik nalar dan jiwanya.)

“Dijajah gimana to, Pak? Ini Hendra di sini bebas lho. Cuti resmi, bos juga udah ACC. Nggak ada yang nodong senjata nyuruh kerja.”

(Bapak tertawa kecil, suara tawanya renyah tapi matanya menatap tajam, seolah sedang mendiagnosis penyakit yang tak kasat mata.)

“Lha itu bedanya penjajah jaman Londo sama jaman sekarang, Le. Kalau dulu kelihatan bedil-nya, kelihatan bentengnya. Kalau sekarang? Penjajahnya alus, nggak kerasa, tau-tau kamu sudah nggak punya kedaulatan atas dirimu sendiri.”

(Bapak memperbaiki posisi duduknya, menyilangkan kaki dengan santai).

“Coba Bapak tanya, kamu tidur itu tujuannya apa?”

“Ya biar seger, Pak. Biar tenaga balik lagi.”

“Nah, biar tenaga balik lagi buat apa? Buat besok kerja lagi, to? Buat besok bisa mikir target perusahaan lagi, to?”

(Hendra terdiam, alisnya bertaut).

“Itu lho yang Bapak maksud. Istirahatmu itu sekarang sudah direduksi, dikecilkan maknanya cuma jadi fungsi teknis. Kayak nge-cas HP. Kamu istirahat bukan buat jiwamu, bukan buat nikmatin hidupmu, tapi biar mesin tubuhmu ini siap diperas lagi besok pagi. Kamu istirahat demi sistem, bukan demi Hendra.”

(Bapak menggeleng-gelengkan kepala, tatapannya menerawang ke arah pohon mangga di halaman).

“Makanya Bapak sering gumun (heran) sama tren jaman sekarang. Apa itu istilahnya anak-anak muda Jakarta? Healing?

Industri kesehatan, industri wisata, nilainya triliunan rupiah sekarang. Itu bukan kebetulan, Le. Itu gejala.”

“Maksudnya gejala gimana, Pak?”

“Ya bayangkan. Kalian dibuat capek, dibuat remuk batinnya sama tuntutan kerja yang nggak ada habisnya. Dibuat cemas harus sukses, harus kaya, harus produktif terus.

Terus, sistem yang sama yang bikin kalian sakit itu, sekarang jualan ‘obat’-nya.”

(Bapak menatap Hendra lekat-lekat).

“Ketenangan jiwa yang harusnya gratis, yang harusnya bisa didapat cuma dengan duduk diem ngelamun kayak gini… sekarang dijual mahal.

Dikemas cantik. Jadi aplikasi meditasi berbayar di HP-mu. Jadi paket liburan staycation mewah yang semalam harganya bisa buat makan orang desa sebulan.

Dan celakanya, pas kalian liburan mahal itu, kalian malah sibuk moto-moto, sibuk update status biar dapet validasi. Itu kan malah jadi kerjaan baru to? Malah nambah cemas baru kalau like-nya dikit.”

(Hendra tertawa getir. Dia merasa tersindir telak. Baru kemarin dia memosting foto pemandangan sawah di Instagram Story dengan caption ‘Healing tipis-tipis’.)

“Bener juga sih, Pak. Rasanya kayak… kita kerja keras banting tulang, cuma buat beli istirahat dari sistem yang ngambil waktu istirahat kita dari awal.”

“Lha iya! Itu lingkaran setan, Le. Wong edan kalau dipikir-pikir.”

(Bapak menunjuk ponsel Hendra yang tergeletak di meja).

“Apalagi ditambah benda pipih itu.

Dulu jaman Bapak muda, batasnya jelas. Ada tembok pabrik, ada tembok kantor. Begitu Bapak keluar gerbang, urusan kerjaan putus. Bapak pulang ke rumah, pikiran Bapak ya buat Ibu, buat kamu.

Sekarang? Temboknya jebol. Batasann e ilang.”

“Tiraninya jadi portabel, bisa dikantongi. Masuk saku celanamu.

Kamu lagi makan sama Bapak gini, ting! notifikasi grup kerjaan bunyi. Ketenanganmu langsung buyar.

Kamu mau tidur, ting! email atasan masuk. Jantungmu langsung deg-degan lagi.”

(Hendra refleks melirik ponselnya, meski layarnya gelap. Ada perasaan ngeri membayangkan benda itu sewaktu-waktu menyala).

“Jadi, Le… istirahat sejati, kondisi di mana nalarmu bener-bener lepas, bener-bener putus dari dunia luar, di mana kamu boleh ngelamun jorok atau bengong kayak orang bego tanpa rasa bersalah… itu sekarang ini jadi rasa kemewahan yang hampir mustahil.”

(Bapak menyeruput tehnya yang mulai hangat kuku sampai tandas).

“Maka kesimpulannya Bapak cuma satu. Di jaman modern ini, istirahat yang beneran itu bukan cuma urusan badan.”

“Terus urusan apa, Pak?”

“Itu tindakan politik, Le. Itu pemberontakan.”

(Hendra mengernyit). “Pemberontakan?”

“Iya. Pemberontakan hening.

Berani mematikan HP-mu. Berani bilang ‘nggak’ sama bosmu di luar jam kerja. Berani duduk diem nggak ngapa-ngapain dan nggak merasa berdosa karena nggak produktif.

Itu caramu merebut kembali kemerdekaanmu. Itu caramu bilang: ‘Tubuhku punya aku, waktuku punya aku, bukan punya kantor’.”

“Tapi pertanyaannya sekarang…” (Bapak menatap mata anaknya dalam-dalam). “Kamu berani nggak ngelakuin itu? Atau kamu sudah terlalu takut ketinggalan kereta?”

(Hendra terdiam lama merenung. Dia memandang hamparan sawah di kejauhan yang fatamorgananya mulai terlihat karena saking panasnya udara. Kalimat Bapak soal “pemberontakan” tadi terasa berat di pundaknya yang sudah terlalu lama memikul beban korporat.)

“Berani sih pengennya, Pak. Tapi… ya realistis aja. Kalau Hendra matiin HP, Hendra ditinggal gerbong. Karir Hendra taruhannya.”

(Hendra menunduk, memainkan ujung celana kainnya).

“Terus kalau Hendra berhenti ngejar itu semua… apa yang sebenernya Hendra cari? Rasanya kosong, Pak.”

(Bapak tersenyum maklum. Dia menuangkan sisa teh terakhir dari teko. Warnanya makin pekat, makin kental).

“Nah, itu pertanyaannya. Kita sampai di intinya sekarang, Le. Kalau istirahat fisik (tidur) itu ternyata sering nipu… badan diem tapi otak lari, terus istirahat macam apa yang bikin jiwamu tenang?”

(Bapak meletakkan cangkir pelan-pelan. Kletik, bunyi pantat cangkir ketemu tatakan).

“Bapak perhatiin, orang-orang jaman sekarang itu salah kaprah bagi-bagi jenis istirahat. Pertama, mereka nyari Istirahat Kebahagiaan. Mereka pikir istirahat itu euforia. Pesta, liburan hingar-bingar, belanja, pencapaian target. Padahal itu semua ilusi, Le. Itu melelahkan. Kamu liburan, tapi macet-macetan. Kamu pesta, tapi besoknya badan remuk. Bising. Butuh distimulasi terus. Istirahat sejati itu justru enggak ngeroso penderitaan. Sepi. Momen di mana kamu nggak lagi ngejar opo-opo. Nggak ngejar seneng, nggak ngejar sedih. Netral.”

“Kedua, ada Istirahat Perenungan. Ini yang Bapak sering lakuin kalau lagi jaga malem di lorong RS yang sepi. Momen di mana kamu sadar sama kekacauan di kepalamu, tapi kamu nggak hanyut. Kamu cuma nonton pikiranmu sendiri kayak nonton Youtube. ‘Oh, aku lagi cemas.’ ‘Oh, aku lagi takut.’ Cuma dilihat, nggak dilawan. Itu istirahat aktif, Le. Njinakin nalar liar.”

(Bapak mencondongkan badan, menatap mata anaknya lekat-lekat).

“Tapi, Le… dari semua itu, ada satu pintu terakhir. Puncak dari segala istirahat. Dan ini yang paling susah, apalagi buat anak muda ambisius kayak kamu.”

“Apa itu, Pak?”

Istirahat secara Keikhlasan. Atau kalau bahasa jawanya: Pasrah.”

(Hendra mengerenyitkan dahi, agak skeptis). “Pasrah? Maksudnya nyerah, Pak? Nrimo gitu aja kalau ditindas?”

“Hush! Bukan!” (Bapak menyergah cepat). “Itu beda. Pasrah yang Bapak maksud bukan pasrah feodal, bukan mental budak yang nrimo ing pandum padahal didzolimi. Itu kebodohan. Itu males mikir. Bukan itu.”

“Pasrah yang Bapak maksud itu… kesimpulan logis paling tinggi dari orang yang mikir.”

(Bapak menunjuk pohon jati tua yang berdiri kokoh di halaman).

“Lihat jati itu. Dia ora protes kalau kemarau daunnya rontok. Dia ora sombong kalau hujan daunnya lebat. Dia ngikut hukum alam. Pasrah itu kondisi di mana kamu sudah berjuang sekeras-kerasnya, sudah mikir sebotak-botaknya, sudah usaha mengubah apa yang bisa diubah… terus kamu sadar satu hal: Ada hal-hal yang mutlak di luar kendalimu, Le.”

“Watak bosmu. Komentar orang lain. Kematian. Nasib.”

“Itu wilayah Tuhan. Wilayahne semesta iki. Tanganmu terlalu kecil buat ngatur itu semua. Nah, ‘Istirahat Sejati’ itu adalah keberanian buat melepaskan cengkeraman egomu dari hal-hal yang nggak bisa kamu atur itu.”

(Suara Bapak melembut, seperti sedang membisikkan rahasia kehidupan).

“Bapak sering liat di ICU. Pasien yang paling tenang, yang wajahnya damai pas ‘pulang’, itu bukan pasien yang paling kaya atau paling kuasa. Tapi pasien yang sudah pasrah. Yang sudah berdamai kalau dia cuma manusia fana. Dia berhenti perang sama realitas. Begitu dia berhenti perang… damai itu datang sendiri. Mak nyes… adem.”

(Bapak menepuk lutut Hendra pelan).

“Kamu sekarang gelisah karena kamu masih perang, Le. Kamu pengen ngatur omongan orang, pengen ngatur masa depan yang belum kejadian, pengen ngatur karirmu harus lurus terus. Itu capek. Itu ra bakal ada istirahatnya sampai kiamat.”

“Coba sekali-kali lepaskan. Akui kalau kamu cuma debu kecil ning alam semesta iki. Lakukan bagianmu, terus sisanya… culke (lepaskan). Biar angin yang bawa.”

(Hendra terdiam. Angin siang yang tadinya terasa panas menyengat, tiba-tiba terasa ada sepoi-sepoinya. Beban di dadanya belum hilang sepenuhnya, tapi rasanya simpulnya sedikit melonggar).

“Susah, Pak…” gumam Hendra pelan.

“Lha iya jelas susah. Kalau gampang, semua orang sudah jadi wali,” (Bapak tertawa renyah, menutup pembicaraan siang itu dengan ringan). “Wis, abisin tehnya. Bapak mau sholat Dzuhur dulu. Kamu kalau mau ngelamun lagi, HP-ne ditinggal di sini aja. Biar dia yang panas, kepalamu jangan.”

(Sepeninggal Bapak yang masuk ke dalam rumah untuk mengambil wudhu, suasana teras mendadak hening. Hening yang mencekam bagi telinga orang kota. Suara kerek timba sumur sudah berhenti. Burung perkutut di kandang gantung pun diam karena kepanasan.)

(Hendra duduk sendiri. Tangannya bergerak gelisah di atas lutut. Matanya melirik ponsel yang tergeletak terbalik di meja. Ada dorongan aneh, sebuah gatal di ujung jari… Untuk membalik benda itu. Sekadar mengecek. Siapa tahu ada email penting? Siapa tahu ada berita besar? Siapa tahu dunia kiamat saat dia sedang minum teh?)

(Akhirnya, pertahanan itu runtuh. Tangan Hendra menyambar ponsel. Layar menyala. Tidak ada notifikasi penting. Hanya spam promo ojek online. Tapi jempolnya bergerak otomatis, membuka Instagram. Scroll. Scroll. Scroll. Melihat hidup orang lain yang tampak lebih seru, lebih sukses, lebih “healing” daripada dia yang cuma duduk di teras desa.)

“Lho, katanya mau pasrah? Kok malah scroll lagi?”

(Hendra terlonjak kaget. Ponselnya nyaris terlepas. Bapak sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya basah sisa air wudhu, sarung kotak-kotaknya sedikit terangkat karena dia baru saja melangkah keluar. Bapak tersenyum, tapi bukan senyum mengejek. Senyum maklum.)

“Susah, Pak…” (Hendra mengaku kalah, meletakkan ponselnya lagi dengan wajah bersalah). “Rasanya aneh kalau diem. Rasanya kayak… ada yang salah. Kayak saya ini pemalas, nggak berguna. Di kantor, kalau kelihatan bengong dikit, langsung ditegur bos. Jadi kebawa sampai sini. Diem itu rasanya berdosa.”

(Bapak duduk kembali di lincak, mengibaskan ujung sarungnya).

“Nah, itu penyakitnya, Le. Kamu merasa ‘bersalah’ kalau istirahat. Itu tandanya jiwamu sudah dikonstruksi sama mesin. Kamu sudah diprogram untuk merasa hina kalau nggak menghasilkan sesuatu.”

(Bapak menatap langit-langit teras yang ada bekas sarang laba-labanya).

“Bapak mau cerita dikit soal ‘utang’. Bukan utang duit di bank, tapi utang sama badanmu sendiri.”

“Di medis, ada istilahnya, Le. Sleep Debt. Utang tidur. Kalau kamu begadang semalem, kamu pikir besoknya diganti tidur siang lunas? Belum tentu. Badanmu itu justru akuntan paling jujur dan paling kejam. Dia nyatet semuanya.”

“Tapi yang Bapak lihat di kamu, dan banyak anak muda sekarang, utangnya bukan cuma utang tidur. Tapi Utang Rasa.”

(Hendra mengernyit). “Utang rasa maksud e opo, Pak?”

“Coba hitung. Berapa kali sehari kamu nahan marah sama klien? Berapa kali kamu senyum palsu sama atasan padahal hatimu dongkol? Berapa kali kamu bilang ‘saya baik-baik saja’ padahal kepalamu mau pecah?”

“Itu semua dicatat sama badanmu, Le. Kamu nahan marah, asam lambungmu naik. Kamu nahan cemas, otot lehermu kaku. Kamu maksa senyum, sarafmu tegang. Itu energi yang kamu pinjam. Kamu ngutang energi dari masa depan buat kelihatan ‘profesional’ hari ini.”

(Bapak menunjuk dada Hendra).

“Dan selayaknya utang, Le… harus dibayar. Badanmu itu kayak rentenir. Dia bakal nagih. Kalau nggak kamu bayar lunas dengan istirahat yang bener…dengan pasrah tadi, dia bakal nagih paksa.”

“Caranya gimana nagihnya?” (Hendra bertanya pelan, mulai merasa ngeri).

“Ya macem-macem. Ada yang ditagih lewat burnout, tiba-tiba mogok nggak mau kerja sama sekali. Ada yang ditagih lewat penyakit fisik, tiba-tiba tifus, atau saraf kejepit padahal cuma duduk. Atau yang paling sering Bapak liat di UGD yaitu serangan panik. Panic attack.”

“Itu sebenernya badanmu lagi teriak: ‘Woy! Bayar utangmu! Aku sudah capek sandiwara terus!’.”

(Hendra merinding. Dia teringat bulan lalu, saat dia tiba-tiba sesak napas di lift kantor tanpa alasan jelas. Dokter bilang jantungnya sehat, cuma stres. Ternyata itu “tagihan” yang datang.)

“Jadi rasa bersalahmu pas diem itu…” (Bapak melanjutkan dengan suara lembut). “…itu sebenernya tipuan. Sistem di kepalamu bilang: ‘Jangan diem, ayo kerja, ayo produktif!’ Tapi badanmu teriak: ‘Tolong berhenti sebentar, kita hitung-hitungan dulu.’

“Kamu milih dengerin yang mana? Mesin di kepalamu yang nggak bakal pernah puas, atau daging dan darahmu sendiri yang punya batas?”

(Hendra menunduk dalam-dalam. Matanya menatap lantai tegel yang retak-retak. Dia baru sadar betapa jahatnya dia pada dirinya sendiri selama ini. Dia memperlakukan tubuhnya seperti kuda sewaan, bukan seperti rumah.)

“Terus cara bayarnya gimana, Pak? Kalau utangnya udah numpuk bertahun-tahun gini?”

“Ya dicicil, Le. Nggak bisa langsung lunas.”

(Bapak menepuk bahu Hendra).

“Mulai dari hal kecil. Berani mengakui kalau kamu capek. Berani bilang ‘saya nggak kuat’ kalau emang nggak kuat. Berhenti jadi pahlawan kesiangan buat perusahaan yang besok juga bisa gantiin kamu kalau kamu mati.”

“Dan yang paling penting… belajar nikmati ‘jeda’. Kayak tadi Bapak bilang, kalau lagi makan, ya makan. Rasakan nasinya, rasakan pedasnya. Jangan makan sambil mikir email. Kalau lagi mandi, ya rasakan airnya. Jangan mandi sambil nyusun presentasi di otak.”

“Hadir di sini. Be here now, kalau kata anak zaman now. Itu cicilan pertamamu buat lunasin utang rasa itu.”

(Bapak berdiri, membetulkan letak sarungnya).

“Wis, Bapak mau masuk kamar dulu. Mau sholat dan setelahnya rebahan bentar. Punggung orang tua ini juga nagih haknya minta dilurusin. Kamu… cobalah duduk diem lima menit aja. Tanpa HP. Tanpa mikir. Rasakan angin itu. Dengerin burung itu. Anggap saja itu pembayaran bunga utangmu hari ini.”

(Bapak masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Hendra sendirian lagi. Kali ini, Hendra tidak menyentuh ponselnya. Dia memejamkan mata. Menarik napas panjang. Mencoba mendengar suara angin yang ternyata… bising sekali di telinganya yang sudah terlalu lama tuli.)

(Hening. Kali ini hening yang benar-benar telanjang. Tidak ada Bapak. Tidak ada wejangan. Hanya Hendra, kursi bambu tua, dan terik matahari yang membakar halaman.)

(Lima menit pertama terasa seperti siksaan. Otak Hendra memberontak. Rasanya seperti pecandu sakau yang diputus obatnya. Si “Manajer” di dalam kepalanya berteriak-teriak panik: ‘Woy, ini buang-buang waktu!’ ‘Cek email! Gimana kalau ada revisi?’ ‘Jangan diem aja, rencanakan karirmu buat tahun depan!’ Suara-suara itu berdenging, tumpang tindih, berebut perhatian. Hendra bisa merasakan detak jantungnya sendiri di telinga. Dug-dug. Dug-dug. Cepat dan cemas.)

(Dia memejamkan mata erat-erat. Keringat mengalir di punggungnya. Panas. “Lawan,” pikirnya. “Lawan pikiran ini.” Tapi semakin dilawan, semakin bising. Semakin dia mencoba “kosong”, semakin penuh kepalanya.)

(Lalu, bayangan Bapak melintas. “Pasrah itu bukan pasif, Le. Pasrah itu kesimpulan logis. Kamu berhenti perang.”)

(Hendra menghela napas panjang. Dia berhenti melawan. Dia biarkan suara-suara cemas itu ada. Dia tidak mengusirnya, tapi dia juga tidak meladeninya. Dia cuma… menontonnya. Seperti menonton lalu lintas macet dari balik jendela kaca yang kedap suara.)

(Perlahan, dia menggeser fokusnya. Bukan ke masa depan, bukan ke Jakarta, tapi ke sekarang. Dia merasakan panas matahari di kulit lengannya. Dulu, dia akan mengeluh: “Panas banget sih, gila.” Tapi sekarang, dia mencoba menerimanya. “Oke, ini panas. Ini matahari. Dia ada di sana, tugasnya memang bersinar. Aku nggak bisa matiin dia. Aku nggak bisa ngatur dia.” Ada kelegaan aneh saat mengakui ketidakberdayaan itu.)

(Dia merasakan tekstur bambu di punggungnya. Keras, tidak rata, berderit. Dia mendengar suara angin yang menggesek daun jati kering. Srek… srek… Dia mendengar napasnya sendiri. Masuk… keluar… Masuk… keluar…)

(Tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamnya. Kesadaran yang sangat sederhana tapi meruntuhkan segalanya: Dunia ternyata tetap berputar tanpa campur tangannya.)

(Pohon mangga itu tetap tumbuh tanpa perlu dia suruh. Burung perkutut itu tetap bunyi tanpa perlu dia beri izin. Jantungnya sendiri tetap berdetak tanpa perlu dia perintah. Selama ini, dia hidup dengan ilusi sombong bahwa dia adalah Atlas yang memanggul langit. Bahwa kalau dia lengah sedikit saja, dunia akan runtuh. Bahwa kalau dia tidak membalas email detik itu juga, perusahaan akan bangkrut.)

(Betapa konyolnya. Betapa angkuhnya.)

(“Aku cuma debu kecil,” batinnya. “Kecil banget.”)

(Dan di detik dia mengakui kekecilannya itu… beban ribuan ton di pundaknya luruh. Otot lehernya yang selama bertahun-tahun kaku seperti kawat baja, perlahan lemas. Rahangnya yang selalu mengatup tegang, melonggar. Cengkeraman tangannya di pegangan kursi terlepas.)

(Ini dia. Iki yang dimaksud Bapak toh. Bukan menyerah kalah. Tapi Gencatan Senjata. Hendra menurunkan senjatanya. Dia berhenti menodongkan pistol ke arah masa depan. Dia berhenti menyandera dirinya sendiri.)

(Rasanya… sepi. Tapi bukan sepi yang menakutkan. Sepi yang luas. Seperti samudra yang tenang setelah badai berhari-hari. Tidak ada lagi rasa bersalah. Tidak ada lagi tuntutan “harus produktif”. Yang ada cuma Hendra. Di sini. Sekarang. Cuma daging, tulang, napas, dan kesadaran yang utuh.)

(Hendra membuka matanya sedikit. Cahaya matahari menembus sela-sela bulu matanya, berpendar keemasan. Dunia terlihat lebih tajam. Warna daun jati itu ternyata cokelat kemerahan yang indah. Langit di atas sana biru sekali. Dia tersenyum. Bukan senyum sopan untuk klien, bukan senyum palsu untuk atasan. Senyum tulus untuk dirinya sendiri. Senyum seorang budak yang baru saja menyadari bahwa pintu penjaranya sebenarnya tidak pernah dikunci.)

(“Ternyata cuma gini,” bisiknya pelan. “Cuma perlu berhenti.”)

(Rasa kantuk yang luar biasa berat tiba-tiba datang. Bukan kantuk karena lelah begadang, tapi kantuk yang “enak”. Kantuk tubuh yang akhirnya merasa aman untuk mematikan sistem pertahanannya. Tagihan “utang rasa” itu mulai dibayar.)

(Tanpa peduli lagi pada gengsi, tanpa peduli pada panas, Hendra meluruskan kakinya di lincak bambu itu. Dia melipat tangannya di atas perut. Ponselnya masih tergeletak di meja, hanya berjarak setengah meter. Tapi rasanya benda itu sudah ada di planet lain. Tidak relevan. Tidak penting.)

(Hendra menarik napas panjang terakhir sebelum kesadarannya memudar. Bau tanah kering. Bau teh sisa. Bau angin desa. Dia menyerahkan kendali. Dia membiarkan semesta yang menyetir sisanya.)

(Dan di teras rumah tua itu, di tengah siang bolong yang terik, diiringi derit bambu dan nyanyian perkutut… seorang Manajer Ibu Kota akhirnya tidur. Benar-benar tidur. Tanpa mimpi. Tanpa cemas. Istirahat yang purba. Istirahat yang lunas.)

[END TRANSMISSION]
/// CONNECTION TERMINATED ///